Bagaimana Kaidah Cincin Tunangan Setelah Putus

Budi Lestari/ Juni 28, 2017/ Belanja Online, Home Improvement/ 0 comments

cincin tunangan

Yang namanya hubungan antar manusia, sangat mungkin pasang surut akan terjadi dalam hubungan antar insan tersebut. Secara aturan, mungkin juga yang tertulis ataupun tidak tertulis, hubungan manusia antara konsep yang satu dengan konsep yang lain sungguh beda. Suatu saat bisa saja  seorang pria dan wanita sangat  enggan melanjutkan hubungan mereka  lagi, Dengan demikian satu yang logis dan ditempuh  adalah jalan pembebasan, dan putus hubungan adalah jalan tengah yang umumnya mereka ambil. Namun apakah hubungan manusia yang saling menyayangi harus dipungkasi dengan putus ? Itu juga sebagai sebuah cermin yang nyata bahwa komitmen itu kekuatannya beda – beda. Yang saya maksudkan adalah saat kita tidak punya pegangan legal fornal mengenai sebuah hubungan, selain hanya nurani seperlunya saja. Tampaknya absurd, namun konstruksi sosial kita melihat hal itu sebagai sesuatu yang nyata. Dalam kaitan ini bagaimana kaidah cincin tunangan setelah putus ?

Tak seperti umumya sebuah bentuk perjanjian dalam berbagai urusan bisnis atau usaha yang lazim secara hukum dilakukan dengan kontrak tertulis, maka acara tunangan yang batal dilanjutkan kepada perkawinan biasanya diselesaikan dnegan cara kekeluargaan. Jadi bagaimana kaidah cincin tunangan setelah putus menjadi hal yang sebaiknya dimusyawarahkan antar ke dua belah pihak. Artinya, anda berdua sebaiknya juga menyadari bersama bahwa akan bagaimana cincin tersebut nasibnya bila anda berdua putus hubungan. Ada yang berpandangan normatif misalnya akan mengembalikan cincin pasca putus hubungan. Namun sebenarnya tidak ada aturan yang harus mengembalikan cincin bila hubungan putus . Jadi memang, pada dasarnya, jika pertunangan tidak berjalan lancar dan menyebabkan sepasang calon pengantin harus putus maka tak ada kewajiban wanita untuk mengembalikan cincin tunangan.

Nah , didalam musyawarah bagaimana kaidah cincin tunangan setelah putus dapat dirundingkan dengan sebaik – baiknya. Misalnya saja pihak sang wanita bisa saja  menawarkan diri untuk mengembalikan cincin tunganan. Hal itupun juga  pada akhirnya pria belum tentu  menerima cincin tersebut kembali ke tangannya. Kalau begitu jalan tengah yang dapat diambil adalah misalnya, sepakat atau ada kesepakatan antara pria dan wanita untuk menjual cincin tersebut pun diperbolehkan dan uang hasil penjualan bisa akan dibagi dua dengan besaran sama besar misalnya.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*